Kamis, 20 Februari 2014

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM FERMENTASI
ISOLASI BAKTERI ACETOBACTER XYLINUM PADA MEDIA CAIR FERMENTASI NATA DE COCO






unsri.jpg






Oleh
IMFRANTONI PURBA
05111003014




TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDRALAYA
2013
I.                   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Nata merupakan jenis makanan yang banyak dikomsumsi dan digemari oleh masyarakat. Nata yang bahan bakunya air kelapa, atau yang  dikenal dengan nata de coco. Nata berupa lapisan putih, kenyal (agak liat), dan padat sebagai hasil penuaian fermentasi oleh mikroba. Jenis makanan ini mirip dengan kolang- kaling, dapat digunakan sebagai manisan, pengisi es krim, yogurt, jelly, agar-agar, dan sebagai campuran cocktail. Selain untuk makanan, nata dapat digunakan untuk pembuatan membran akustik (loudspeaker), karena nata memiliki karakteristik high fibre (Endang, 2000)
Nata dapat dibuat dari bermacam-macam bahan dasar yang biasanya diberi nama sesuai dengan bahan dasarnya. Nata yang dibuat dari air kelapa, buah nanas, buah jambu mete, kedelai, dan buah tomat berturut-turut diberi nama nata de coco, nata de pina, nata de cashew, nata de soya, dan nata de tomato. Proses pembuatan nata pada dasarnya meliputi enam tahap kegiatan, yaitu penyiapan substrat, penyiapan media, penyiapan starter, pemeraman atau fermentasi, penghilangan asam, dan pemasakan. Pemanenan nata dilakukan setelah proses fermentasi berakhir (Anugrah, 2010)
Penambahan sumber nitrogen anorganik atau organik akan meningkatkan aktivitas Acetobacter xylinum dalam produksi nata. Pertumbuhan Acetobacter xylinum memerlukan vitamin-vitamin tertentu dan vitamin B kompleks. Bahan-bahan bisa didapatkan melalui penambahan sumber nitrogen dari luar, dalam hal ini adalah ammonium fosfat. Acetobacter xylinum membentuk asam dari glukosa, etil alkohol, propil alkohol dan glikol, serta mengoksidasi asam asetat menjadi gas CO2 dan H2O. Komponen selulosa ini akan membentuk jalinan mikrofibil yang panjang dalam cairan fermentasi. Gelembung-gelembung gas CO2 yang dihasilkan selama fermentasi mempunyai kecenderungan melekat pada jaringan selulosa ini, sehingga menyebabkan jaringan tersebut terangkat ke permukaan cairan (Agung, 2001).
B.     Tujuan
Mengetahui cara mengisolasi bakteri Acetobacterium xylinum dari media cair fermentasi Nata de Coco.
II.                HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Hasil yang diperoleh dari praktikum ini yaitu
Kelompok
Isolasi
Jumlah koloni
Ganjil
1
2
600
296

B.     Pembahasan
Praktikum kali ini mengisolasi bakteri acetobacter xilynum. Pengenceran pada nata de coco lebih banyak dibandingkan yoghurt, yaitu sebanyak enam kali pengenceran. Tujuan pengenceran adalah untuk mengurangi kepadatan mikrobia yang ditanam. Jenis mikrobia yang terdapat pada nata de coco adalah Acetobacter Xylinum. Acetobacter Xylinum merupakan bakteri gram negative, aerobik berbentuk batang pendek, dengan permukaan dinding yang berlendir. Bakteri ini bisa membentuk rantai pendek dengan satuan 6-8 sel. Bersifat nonmotil.
Isolasi adalah suatu cara untuk memisahkan satu mikrobia dari mikrobia lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan spesies tunggal dengan sifat-sifat yang diinginkan. Untuk mengetahui jenis mikroorganisme yang hidup dalam bahan pangan dapat dilakukan isolasi mikrobia, dengan cara menggoreskan suspensi campuran sel pada suatu media padat di dalam cawan petri kemudian menginkubasikannya, sehingga setiap sel akan tumbuh membentuk koloni dan memudahkan untuk memisahkannya. Isolasi adalah suatu metode untuk memisahkan mikroorganisme dalam medium menjadi sel yang individu yang disiapkan untuk mendapatkan spesies tunggal. Pada prinsipnya percobaan isolasi dimulai dengan membuat suspensi bahan sebagai sumber mikrobia. Lalu suspensi tersebut dituangkan atau digoreskan (dengan menggunakan jarum ose steril) pada media yang sebelumnya telah disediakan terlebih dahulu.
Acetobacter xylinum beraktivitas dapat memecah gula untuk mensintesis selulosa ekstraseluler. Selulosa merupakan rantai tidak bercabang yang saling berikatan  paralel satu sama lain. Sifat selulosa diantaranya tidak larut dalam air, eter, alkohol; tidak dapat dicerna oleh enzim pencernaan manusia tetapi akan terhidrolisis oleh asam kuat (H2SO4). Selulosa yang terbentuk berupa benang-benang yang bersama-sama dengan polisakarida berlendir membentuk suatu jalinan secara terus-menerus menjadi lapisan nata. Terbentuknya pelikel (lapisan tipis nata) mulai dapat terlihat di permukaan media cair setelah 24 jam inkubasi, bersamaan dengan terjadinya proses penjernihan cairan di bawahnya. Jaringan halus yang transparan yang terbentuk di permukaan membawa sebagian bakteri terperangkap di dalamnya. Gas CO2 yang dihasilkan secara lambat oleh Acetobacter xylinum menyebabkan pengapungan ke permukaan (Slamet, 2002).
Suasana yang terdapat pada nata adalah suasana asam, dimana pH nya rendah. Hal ini dikarenkan pH rendah merupakan lingkung yang sesuai untuk pertumbuhan nata de coco. Setelah pengenceran satu selesai, maka tabung reaksi yang dimasukkan 1 ml mikrobia harus di vortex. Tujuan vortex ialah untuk menghomogenkan campuran yang terdapat di dalam tabung reaksi.
Nata de coco yang dibuat pada praktikum ini dibuat dengan dua kali ulangan. Ulangan pertama menghasilkan jumlah koloni sebanyak 600 koloni sedangkan ulangan dua menghasilkan jumlah koloni sebanyak 296 koloni. Acetobacter xylinum menggunakan substrat berupa glukosa yang terdapat di dalam air kelapa. Substrat yang terbatas ini juga menjadi salah satu faktor mengapa pada ulangan dua jumlah mikrobia yang hidup hanya sedikit.
Hasil praktikum tidak membentuk gel atau jelly dikarenakan syaratnya tidak terpenuhi. Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan Karbon (C) dan Nitrogen (N), melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim ekstraseluler yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersbeut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata (Dimas, 2010).



III.             KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari hasil praktikum ini ialah :
1.      Isolasi adalah suatu cara untuk memisahkan satu mikrobia dari mikrobia lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan spesies tunggal dengan sifat-sifat yang diinginkan.
2.      Bakteri Acetobacter xylinum akan dapat membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan Karbon (C) dan Nitrogen.
3.      Aktivitas Acetobacter xylinum dapat memecah gula untuk mensintesis selulosa ekstraseluler.
4.      Keterbatasan substrat menyebabkan pertumbuhan mikrobia terhambat
5.      Tumbunya mikrobia jenis lain dapat menjadi faktor pengahmabat perbanyakan koloni Acetobacter xylinum 



















DAFTAR PUSTAKA
Anugrah. 2010. Pembuatan Nata De Coco dengan Forotifikasi Limbah Cucian Beras Menggunakan Acetobacter xylinum . Fateta, IPB. Bogor.
Agung S. Bakti. (2001). Penggunaan Nira Kelapa, Nira Aren, dan Tetes Tebu pada Fermentasi Nata De Coco. Skripsi Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta.
Astawan. 2009. “Peluang Usaha : Nata de Coco”. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Dimas. 2010. Teknologi Agroindustri Kelapa yang Sesuai untuk Pedesaan”. Dalam : Prosiding Konferensi Nasional Kelapa IV. Bandar Lampung, 21-23 April.
Dorman. 2010. “Daya Guna Hasil Kelapa”. Departemen Teknologi Hasil Pertanian, Fateta, IPB. Bogor.
Endang S.Rahayu. (2000). Bahan Pangan Hasil Fermentasi. Yogyakarta : Pusat Antar Universitas Pangan dan Gizi UGM.
Slamet Sudarmadji, dkk. (2002). Mikrobiologi Pangan. Yogyakarta : PAU Pangan dan Gizi UGM.


AKEI angka kecukupan energi individu

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM ILMU GIZI
ANGKA KECUKUPAN ENERGI INDIVIDU (AKEI)









OLEH :
IMFRANTONI PURBA
05111003014







TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
INDERALAYA
2013
I.       PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang 
            Kecukupan energi didefinisikan sebagai kemampuan untuk melakukan pekerjaan, tubuh memperoleh energi dari makanan yang dimakan, energi dalam makanan terdapat energi kimia yang dapat diubah menjadi bentuk lain. Bentuk energi yang berkaitan dengan proses-proses biologi adalah energi kimia, energi mekanik, energi panas dan energi listrik. Energi merupakan salah satu hasil metabolisme karbohidrat, protein dan lemak. Energi berfungsi sebagai zat tenaga untuk metabolisme, pertumbuhan, pengaturan suhu dan kegiatan fisik. Kelebihan energi disimpan dalam bentuk glikogen sebagai cadangan energi jangka pendek dan dalam bentuk lemak sebagai cadangan jangka panjang (IOM, 2005).
            Energi merupakan asupan utama yang sangat diperlukan oleh tubuh.  Kebutuhan energi yang tidak tercukupi dapat menyebabkan protein, vitamin, dan mineral tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh dengan baik dan efektif.  Kebutuhan energi dipengaruhi oleh BMR (Basal Metabolic Rate) atau EMB (Energi Metabolisme Basal), kecepatan pertumbuhan, komposisi tubuh, dan aktifitas fisik.  Energi yang diperlukan berasal dari kimia yang terdapat dalam makanan yang dikonsumsi.  Sumber energi yaitu protein menyumbang energi sebanyak 4kkal/g, karbohidrat juga menyumbang 4kkal/g, dan lemak menyumbang energi sebanyak 9kkal/g (Intan, 2008).
            Pangan sumber energi adalah pangan sumber lemak, karbohidrat dan protein. Pangan sumber energi yang kaya lemak antara lain lemak/gajih dan minyak, buah berlemak (alpokat), biji berminyak (biji wijen, bunga matahari dan kemiri), santan, coklat, kacang-kacangan dengan kadar air rendah (kacang tanah dan kacang kedele), dan aneka pangan produk turunnanya. Pangan sumber energi yang kaya karbohidrat antara lain beras, jagung, oat, serealia lainnya, umbi-umbian, tepung, gula, madu, buah dengan kadar air rendah (pisang, kurma dan lain lain) dan aneka produk turunannya. Pangan sumber energi yang kaya protein antara lain daging, ikan, telur, susu dan aneka produk turunannya (Hardinsyah, 2004).


B.        Tujuan          
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui angka kecukupan energi individu. 



II.                TINJAUAN PUSTAKA
   Energi dibutuhkan manusia untuk bergerak atau melakukan aktivitas fisik sehari-hari dan untuk memprtahankan kehidupan, yaitu untuk menggerak semua proses-proses dalam tubuh, seperti sirkulasi darah, pernapasan, denyut jantung, pencernaan dan proses-proses fisiologis lainnya. Karbohidrat, lemak dan protein adalah sumber energi bagi kebutuhan tubuh. Energi yang masuk dalam tubuh melalui makanan harus seimbang dengan energi yang dibutuhkan oleh masing-masing individu. Kelebihan dan kekurangan energi pada msing-masing individu dapat diukur dengan melihat berat badannya. Akibat masukan energi yang berlebihan darei kebutuhan, akan menyebabkan kegemukan. Sementara masukan energi yang kurang dari kebutuhan menyebabkan berat badan kurang (Fauji, 2011).
             Perhitungan kecukupan energi yang terkini didasarkan model persamaan IOM (2005) dari meta analisis tim pakar Institute of Medicine (IOM 2002). Model ini diperoleh dari data enersi basal (EB) yang diukur dengan metode doubly labeled water yang lebih valid dibanding model sebelumnya. Kecukupan energi pada anak berbeda dengan kelompok usia lainnya (IOM, 2005).
            Rumus perhitungan kecukupan energi pada anak usia 0-8 tahun disajikan pada Tabel 1, untuk remaja pada Tabel 2, untuk dewasa (Laki laki dan Perempuan serta Perempuan hamil) pada Tabel 3, dan untuk lansia pada Tabel 4. Kecukupan energi sejak usia empat tahun dikoreksi dengan faktor kategori aktifitas (PA). Pada kelompok usia lanjut (Lansia) hasil perhitungan AKE dari persamaan Henry (2005) perlu dikoreksi karena jumlah subyek yang kecil dan overestimasi berdasarkan hasil kajian Krems C et al (2005), yaitu overestimasi 9 % pada lansia laki-laki dan 11% pada lansia perempuan mulai usia 65 tahun. Pada lansia juga dilakukan koreksi penurunan kebutuhan energi dengan bertambahnya umur yaitu 5% pada usia 50-64 tahun, 7.5 % pada usia 65-79 tahun, dan 10% pada usia >=80 tahun sebagai akibat penurunan jumlah sel-sel otot, beragam kompleks penurunan fungsi organ (Khomsan, 2000).
Kebutuhan Energi (E) dan Protein (P) diutamakan karena :
1. Kebutuhan (E) dan (P) cukup, maka vitamin dan mineral akan terpenuhi jika konsumsi
    pangan beragam.
2. Kurang konsumsi (E) lebih dini diketahui.
3. Dampak kurang konsumsi (E) dan (P) lebih berbahaya
            Informasi yang penting diketahui untuk menghitung angka kecukupan energi (AKEI) dewasa cara rinci adalah umur (tahun), jenis kelamin, berat badan (kg), persamaan regresi untuk menghitung EMB, jenis kegiatan dan alokasi waktunya (jam).  Persamaan regresi untuk menghitung EMB bagi orang dewasa berbeda menurut kelompok umur dan jenis kelamin, yaitu:
Pria : 20 – 29 Tahun, EMB = 15.3 B + 679
30 – 59 Tahun, EMB = 11,6 B + 879
> = 60 Tahun, EMB = 13.5 B + 487
Wanita : 20 – 29 Tahun, EMB = 14.7 B + 496
30 – 59 Tahun, EMB = 8.7 B + 829
> = 60 Tahun, EMB = 10.5 B + 596
Menghitung angka kecukupan energi bagi orang dewasa dan lanjut usia hanya memperhitungkan energi kegiatan dan faktor kelipatan EMB. Energi pertumbuhan tidak termasuk faktor yang diperhitungkan. Hal ini disebabkan karena pada masa dewasa dan lanjut usia, energi dibutuhkan hanya untuk melakukan aktifitas dan bukan untuk pertumbuhan (Henry, 2005).
























III.             METODOLOGI PRAKTIKUM
A.    Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat, tanggal 25 Oktober 2013, pukul 10.00 WIB sampai dengan pukul 11.40 WIB di Ruang Kelas C 1207, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya.

B.     Cara Kerja
Cara kerja praktikum ini adalah:
1.    Seseorang mahasiswa menghitung jumlah kalori yang dikonsumsi dalam 1 kali 24 jam
2.    Mahasiswa tersebut menghitung angka kecukupan energi dengan menggunakan parameter usia dan berat badan untuk menentukan kebutuhan energi basalnya
3.    Menghitung kapasitas energi yang digunakan untuk setiap aktivitas dalam satu kali 24 jam dan membandingkan dengan jumlah kalori yang dikonsumsi dengan rengang waktu yang sama




















IV.             HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Hasil
Tabel 1.  Perhitungan Angka Kecukupan Energi Laki-laki >= 20 tahun
EMB = 15,3 B + 679
            =15,3 (64) + 679 = 1658,2 kkl
EK (24 jam)
Aktivitas
Jenis penggunaan energi
Waktu (jam)
Jumlah kalori(kal)
Tidur
Tidur
8 jam
(1x8jam)/24 jam X 1.566,4  =522,13 kal

Pekerjaan
Duduk dan diam (kuliah)
6 jam
( 1,2x6)/24 jam X 1.566,4      
=  496,92 kal

Bekeja di laboratorium
2 jam
( 2x2)/24 jam X 1.566,4         
=  261,0667 kkl
Kegiatan lain
Mencuci baju
0,5 jam
( 2,2x0,5)/24 jam X 1.566,4
= 71,7933


Olahaga
1 jam
( 2,2x1)/24 jam X 1.566,4
=  143,5867


Beres-beres
0,5  jam
(3,7x0, 5)/24 jam X 1.566,4 
= 120,7433

Waktu luang
Menonton TV
2 jam
( 1,4x2)/24 jam X 1.566,4      
= 182,7467


Bersantai
4 jam
( 1,4x4)/24 jam X 1.566,4
= 365,4933

Total energi yang dipergunakan                                                          2.164,48 kkl









Jenis makanan
URT

Berat makanan (gr)
Energi
(Kkal)
Nasi
3 piring
500
x450=2.250
Ikan
2 potong
100
x88=88
Sayur kangkung
1/3 porsi
50
x29=14.5
Ayam goreng
1 potong
80
x302=241.6
Tempe
4 potong
120
x149=178.8
Teh
2 gelas
200
x132=264


Total kalori yang dikonsumsi
3.036,9 Kkal


B.     Pembahasan
Praktikum kali ini praktikan diminta untuk menghitung jumlah Energi Metabolisme Basal (EMB) dan jumlah Energi Kegiatan (EK) dari praktikan itu sendiri dalam waktu 24 jam. Perhitungan ini agar praktikan mengetahui seberapa besar energi yang digunakannya dalam beraktivitas selama 24 jam dan seberapa besar kekurangan atau kelebihan energi kegiatan tersebut dengan energi metabolisme basal pada praktikan itu sendiri. 
            Berdasarkan hasil perhitungan yang ada, Energi Metabolisme Basal saya sebesar 1.658,2 sedangkan untuk total energy yang saya keluarkan selama 24 jam sebesar 2.164,48 kkl. Sedangkan jumlah energi yang saya peroleh dari makanan sebesar 3.036,9 kkl.  Hal ini menunjukkan bahwa tubuh saya tercukupi energi untuk melakukan aktifitas sehari-hari. Pehitungan berdasarkan pertimbangan dasar dari EMB yang menjadi basis dasar dari pertimbangan energi basal yang digunakan seorang lelaki dewasa berusia 20 sampai 29 tahun. Berdasarkan asumsi dari konsumsi pangan seorang lelaki dewasa berusia diatas 20 tahun adalah sebesar 2550 kkal per hari.
            Kebutuhan energi tiap individu berbeda-beda berdasarkan jenis kelamin, usia, beban aktivitas hingga kondisi fisiologis spesifik seperti dalam keadaan sakit, masa pertumbuhan, mengandung , dan usia lanjut. Pengaruh lingkungan tempat tinggal akan mempengaruhi jumlah kebutuhan energi perhari karena keadaan geografis seperti wilayah pegunungan yang dingin cenderung membutuhkan energi lebih banyak dibandingkan daerah dataran rendah dengan iklim sejuk hingga hangat karena dalam kondisi dingin tubuh membutuhkan energi ekstra yang harus dikonversi menjadi panas tubuh untuk menjaga kestabilan sistem peredaran darah didalam tubuh dan menjaga suhu organ dalam tubuh dari hipotermia (Hardinsyah et al.,2010).
            Energi yang saya dihitung dalam 24 jam.Manusia dalam keadaan tidur memang tidak melakukan aktifitas fisik, namun metabolisme di dalam tubuh tetap harus berjalan. Energi metabolise tersebut digunkan untuk peredaran darah, pergerakan jantung dan untuk aktifitas semua organ tubuh dalam melaksanakan proses metabolisme. Energi yang saya butuhkan untuk tidur dalam waktu 8 jam yaitu sebesar 522,13 kal. Saya kuliah selama 6 jam dimana selama perkuliahan kegiatan yang dilakukan hanya duduk saja sehingga energi yang dikeluarkan sebesar 496,92 kklBekerja di laboratorium selama 2 jam, saya gunakan energi sebesar 261,0667 kkl. Kegiatan lain seperti olahraga, mencuci dan beres-beres saya gunakan waktu dalam 2 jam, saya pergunakan energi sebesar 336,1233 kkl. Waktu luang saya sebanyak 6 jam saya pergunakan untuk menonton TV dan bersantai, saya pergunakan energi sekitar 548,24 kkl. Total energi yang saya pergunakan dalam 24 jam yaitu sebesar 2.164,48 kkl.
            Faktor yang mempengaruhi energi kecukupan gizi seseorang adalah pertama umur dimana umur yang masih muda cenderung lebih aktif sehingga semakin banyak energi yang diperlukan untuk beraktifitas. Kedua jenis kelamin, ketiga tinggi badan dan berat badan yang mana jika seseorang memiliki berat badan yang lebih rendah dibandingkan berat badan normal maka angka kecukupan gizinya harus berdasarkan berat badan normal.  Untuk menghitung berat badan normal yaitu BB Normal = (TB aktual (cm) - 100 ) + 10 %.









V. KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh pada praktikum ini adalah:
1.      Kebutuhan energi setiap orang berbeda satu sama lain, tergantung pada faktor usia, jenis kelamin, dan kondisi tubuhnya. Kebutuhan energi harus terpenuhi untuk melakukan aktivitasnya.
2.      Angka Metabolisme Basal adalah kebutuhan minimal yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan proses tubuh yang vital.
3.      Asupan kecukupan energi yang dikonsumsi dalam 24 jam sebesar 3.036,9 Kkal telah terpenuhi dari energi yang saya pergunakan dalam 24 jam  yaitu sebesar 2.164,48 kkl
4.      Angka kecukupan energi (AKE) adalah banyaknya asupan makanan dari seseorang yang seimbang dengan pengeluarannya sesuai dengan susunan dan ukuran tubuh,   tingkat kegiatan jasmani dalam keadaan sehat dan mampu menjalankan tugas-tugas kehidupan secara ekonomis dalam jangka waktu lama.





















DAFTAR PUSTAKA
Fauji M. (2011). Aktivitas Fisik dan Kaitannya dengan kecukupan dan tingkat konsumsi cairan pada remaja dan dewasa [skripsi]. Bogor: Fakultas Ekologi Manusia, Institut Pertanian Bogor.
Hardiansyah,Hadi,R.dan Napitupulu V.2010.Kecukupan energi, protein, lemak dan karbohidrat.departemen gizi ,FK UI.Jakarta
Hardinsyah dan Tambunan, V. (2004). Kecukupan Energi, Protein, Lemak dan Serat Makanan. Dalam Angka Kecukupan Gizi dan Acuan Label Gizi. LIPI, Deptan, Bappenas, BPOM, BPS, Menristek, PERGIZI PANGAN, PERSAGI dan PDGMI. Jakarta
 Henry CJK. (2005). Basal Metabolic Rate Studies in Humans: Measurements and Developmnet of New Equations. Public Health Nutrition 8(7)A:1133-1152.
Intan.  2008.  Gambaran Konsumsi Literatur.  (online).  (lontar.ui.ac.id/file?file=digital/126621-S-5444...Literatur.pdf‎., diakses 3 Oktober 2013).
[IOM] Institute of Medicine. (2005). Dietary Reference Intake for Energy, Carbohydrate, Fiber, Fat, Fatty Acids, Cholesterol, Protein, and Amino Acids. A Report of the Panel on Macronutrients, Subcommittees on Upper Reference Levels of Nutrients and Interpretation and Uses of Dietary Reference Intakes, and the Standing Committee on the Scientific Evaluation of Dietary Reference Intakes. National Academies Press, Washington, DC.
Khomsan A. 2000. Teknik Pengukuran Pengetahuan Gizi. Bogor: Institut Pertanian Bogor