Jumat, 08 November 2013

FERMENTASI UJI AKTIVITAS ANTI MIKROBA


LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM FERMENTASI
UJI AKTIVITAS ANTIMIKROBA


UNSRI-1













Oleh :
IMFRANTONI PURBA
05111003014








TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2013
A. PENDAHULUAN
Mikroba yaitu jasad renik yang mempunyai kemampuan sangat baik untuk bertahan hidup. Jasad tersebut dapat hidup hampir di semua tempat di permukaan bumi. Mikroba mampu beradaptasi dengan lingkungan yang sangat dingin hingga lingkungan yang relative panas, dari ligkungan yang asam hingga basa. Berdasarkan peranannya, mikroba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu mikroba menguntungkan dan mikroba merugikan (Afriyanto, 2008).
 Selain berinteraksi intraspesies, mikroba juga berinteraksi secara interspesies dengan manusia, tumbuhan, dan hewan. Dalam interaksinya dengan manusia, mikroba tersebut ada yang bersifat menguntungkan dan merugikan. Contohnya bakteri patogen Escherichia coli dan kelompok bakteri Coliform dapat menyebabkan diare, kolera, dan penyakit saluran pencernaan lainnya. Kapang dan khamir menyebabkan penyakit karena menghasilkan racun (mikotoksin) dan menginfeksi permukaan tubuh seperti kulit, kuku, dan rambut (mikosis superfisial), serta menyerang jaringan dalam tubuh melalui peredaran darah (mikosis sistemik) (Yuharmen, 2007).
 Salah satu upaya untuk melawan mikroba tersebut adalah dengan menggunakan mikroba lain yang mempunyai sifat antagonis (antimikroba) sebagai pengganggu atau penghambat metabolisme mikroba lainnya. Mikroba antagonis yang memiliki kemampuan antimikroba tersebut dapat menghasilkan senyawa antimikroba. Senyawa antimikroba yang dihasilkan oleh mikroba pada umumnya merupakan metabolit sekunder yang tidak digunakan untuk proses pertumbuhan, tetapi untuk pertahanan diri dan kompetisi dengan mikroba lain dalam mendapatkan nutrisi, habitat, oksigen, cahaya dan lain-lain. Senyawa antimikroba tersebut dapat digolongkan sebagai antibakteri atau antifungi (Pelczar dan Chan, 2007). Beberapa senyawa antimikroba adalah fenol, formaldehida, antibiotik, asam, dan toksin (Dwidjoseputro, 2009).
              Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara. Senyawa antimikroba terdiri atas beberapa kelompok berdasarkan mekanisme daya kerjanya atau tujuan penggunaannya. Bahan antimikroba dapat secara fisik atau kimia dan berdasarkan peruntukannya dapat berupa desinfektan, antiseptic, sterilizer, sanitizer dan sebagainya (Lutfi, 2007).
Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapa kelompok sebagai berikut diantaranya merusak dinding sel, mengganggu permeabiitas sel, merusak molekul protein dan asam nukleat, menghambat aktivitas enzim, menghambat sintesa asam nukleat. Aktivitas antimikroba yang dapat diamati secara langsung adalah perkembangbiakannya. Oleh karena itu antimikroba dibagi menjadi dua macam yaitu antibiotic dan disinfektan. Antibiotik adalah senyawa yang dihasilkan oleh microorganisme tertentu yang mempunyai kemapuan menghambat pertumbuhan bakteri atau bahkan membunuh bakteri walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Antibiotik digunakan untuk menghentikan aktivitas mikroba pada jaringan tubuh makhluk hidup sedangkan desinfektan bekerja dalam menghambat atau menghentikan pertumbuhan mikroba pada benda tak hidup, seperti meja, alat gelas, dan lain sebagainya. Pembagian kedua kelompok antimikroba tersebut tidak hanya didasarkan pada aplikasi penerapannya melainkan juga terhadap konsentrasi mikroba yang digunakan (skou, 2007).
              Bahan kimia yang umum digunakan sebagai pembersih atau sanitiser dalam industrypangan biasanya mengandung klorin sebagai bahan aktifnya. Bahan kimia yang dapat digunakan untuk menghambat pertumbuhan mikroba disebut bahan pengawet (preservatif) (Paul, 2008)

B. Tujuan
            Untuk menguji aktivitas antimikroba dari bahan-bahan yang diujikan seperti betadine, dettol, ekstrak kunyit, ekstrak cengkeh, ekstrak gambir, ekstrak daun sirih, bakteriosin, ekstrak daun salam.







C. HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Hasil dari praktikum ini adalah :
Tabel 1. Diameter zona bening
Zat Antimikroba
Pengamatan ke-1
Pengamatan ke-2
E. coli (cm)
S. aureus(cm)
E. coli (cm)
S. aureus (cm)
Betadine
a. Sumur : 2,4
b. Cakram : 2
a. Sumur : 2,8
b. Cakram : 0,9
a. Sumur : 1
b. Cakram :0,7
a. Sumur : 2,55
b. Cakram : 3
Detol
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,45
a. Sumur : -
b. Cakram : 2
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,5
a. Sumur : -
b. Cakram: 2,3
Ekstrak kunyit
a. Sumur : 1,7
b. Cakram : 0,8
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,7
a. Sumur : 1,7
b. Cakram : 0,9
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,8
Ekstrak cengkeh
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,7
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,7
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,8
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,7
Ekstrak gambir
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,4
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,2
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,6
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,5
Ekstrak daun sirih
a. Sumur : 0,7
b. Cakram :0
a. Sumur : 0
b. Cakram : -
a. Sumur : 0,7
b. Cakram :0,8
a. Sumur : 0,7
b. Cakram :0
Bakteriosin
a. Sumur : 1,7
b. Cakram : 0,9
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,6
a. Sumur : 1,5
b. Cakram : 0,5
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,4
Ekstrak daun salam
a. Sumur : 0,5
b. Cakram :0,6
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,5
a. Sumur : 0,6
b. Cakram : 0,8
a. Sumur : -
b. Cakram : 0,6
























B. Pembahasan
            Mekanisme penghambatan mikroorganisme oleh senyawa antimikroba dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain: (1) gangguan pada senyawa penyusun dinding sel, (2) peningkatan permeabilitas membran sel yang dapat menyebabkan kehilangan cairan sel, (3) menginaktivasi enzim, dan (4) destruksi atau fungsi material genetik (Anonimus, 2007).
Perlakuan aseptik ialah perlakuan yang bertujuan  terbebas dari mikroorganisme. Aseptik diimbangi dengan sterilisasi yang merupakan upaya untuk menghilangkan kontamina mikroorganisme yang menempel pada alat atau bahan yang akan dipergunakan untuk analisa selanjutnya (Jati, 2007).
Memulai dan mekngakhiri kerja dilaboratorium sangat penting dilakukannya proses sterilisasi. Alkohol 70% disemprotkan pada tangan, berfungsi untuk membunuk mikroorganisme yg tidak diinginkan agar diperoleh hasil yang akurat dari hasil praktikum. Proses pemindahan mikroba secara aseptic sangat membutuhkan ketelitian yang tinggi. Jika tidak, kesalahan dalam teknik sedikit saja akan mempengaruhi semua hasil pengamatan. Oleh karena itu, dalam melakukan pemindahan mikroba dari media yang lama, menuju media yang baru harus mengetahui teknik dan menjaga kesterilan bahan maupun alat yang digunakan (Dwijoseputro, 2003).
            Bahan antimikroba yang diujikan pada praktikum ini yaitu betadine, dettol, ekstrak kunyit, ekstrak cengkeh, ekstrak gambir, ekstrak daun sirih, bakteriosin, ekstrak daun salam. Bakteri yang digunakan sebagai percobaan yaitu E. Colli dan S. Aureus. Spreader digunakan untuk meratakan bakteri sehingga menyeluruh di dalam media. Kemudian media yang berada di dalam cawan petri dan telah berisi bakteri di belah menjadi dua bagian, untuk dijadikan tempat uji bahan antimikroba, sehingga satu cawan petri terdapat dua bahan anti mikroba. Kertas cakram yang berbentuk seperti kertas saring yang berukuran lingkatan kecil dicelupkan ke dalam bahan antimikroba, lalu dipindahkan dengan menggunakan pinset ke dalam cawan petri. Setelah di inkubasi selama 2x24 jam, akan muncul zona bening (zona antimikroba) yang berbentuk menyerupai lingkaran yang memiliki diameter, lalu diameter tersbut akan diukur. Zona bening tersebut adalah area perkembangan aktivitas bahan antimikroba terhadap bakteri yang ada di sekitarnya.
            Data hasil pengamatan menunjukkan bahwa diameter yang paling besar itu diperoleh dari zat antimikroba jenis bethadine yaitu pada pengamatan pertama pada mikroba jenis E. Colli pada metode sumur diperoleh diameter 2,4 cm dan cakram 2 cm, sedangkan pada S. Aureus metode sumur 2,8 cm dan cakram 0,9 cm. Pengamatan kedua menunjukkan pada bakteri jenis E. Colli, pada metode sumur 1 cm dan cakram 0,7 cm, sedangkan pada S. Aureus metode sumur 2,55 cm dan cakram 3 cm. Pengamatan menunjukkan terjadi penurunan aktivitas antimikroba pada hari kedua pengamatan terlebih pada bakteri jenis E. Colli, sedangkan pada bakteri jenis S. Aureus terjadi penurunan hanya pada metode sumur sedangkan pada metode cakran terjadi kenaikan aktivitas mikroba.
            Aktivitas antimikroba paling sedikit terjadi pada antimikroba gambir, pengamatan menunjukkan pada bakteri jenis E. Colli pada metode sumur tidak ada terjadi aktivitas mikroba sedangkan pada metode cakram diperoleh diameter sebesar 0,4 cm. Bakteri jenis S. Aureus pada metode sumur tidak ada sedangkan pada cakram sebesar 0,2 cm. Pengamatan kedua menunjukkan, pada bakteri jenis E. Colli metode sumur tidak ada dan cakram sebesar 0,6 cm, sedangkan pada bakteri jenis S. Aureus pada metode sumur tidak ada terjadi dan cakram diperoleh diameter bening sebesar 0,5 cm.
            Setiap metode yang digunakan untuk mengurangi aktivitas mikroba memiliki dampak yang dapat mengurangi dan meningkatkan aktivitas antimikroba. Bahkan dari setiap metode ada yang dapat membuat aktivitas antimikroba semakin meningkat dan menurun pada pengamatan selanjutnya.
















D. KESIMPULAN
1.      Perlakuan aseptik ialah perlakuan yang bertujuan  terbebas dari mikroorganisme.
2.      Antibakteri atau antimikroba adalah bahan yang dapat membunuh atau menghambat aktivitas mikroorganisme dengan bermacam-macam cara.
3.      Antimikroba yang paling efektif digunakan untuk menghilangkan banyak mikroba jenis E. Colli dan S. Aureus  yaitu jenis bethadine dan yang kurang efektif yaitu gambir.
4.      Metode yang paling baik digunakan yaitu metode cakram karena metode ini dapat meningkatkan aktivitas antimikroba.
5.      Mekanisme daya kerja antimikroba terhadap sel dapat dibedakan atas beberapa kelompok sebagai berikut diantaranya merusak dinding sel, mengganggu permeabiitas sel, merusak molekul protein dan asam nukleat, menghambat aktivitas enzim, menghambat sintesa asam nukleat.




















DAFTAR PUSTAKA
Afrianto, Eddy. 2008, Pengawasan Mutu Bahan/Produk Pangan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.
Anonimus, 2007. Aktivitas Senyawa Antimikroba <http://repository.upi.edu/operator/upload/
s_bio_0608292_chapter 1. pdf> diakses tanggal 3 Mei 2012.
Dwidjoseputro, 2009. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta:Djambatan.  
Jati, Wijaya. 2007. Biologi Interaktif. Jakarta : Ganeca Exact.
Lutfi, Ahmad. 2007. Kimia Lingkungan. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional
Paul, Singleton. 2008. Dictionary of Microbiology And Molecular Biology Third Edition. England : John wiley & Sons Inc.
Pelczar M.J. dan Chan. 2007.  Dasar-dasar Mikrobiologi Jilid 1. Jakarta : UI Press.
Skou Torben dan Sogaard Jensen Gunnar. 2007. Microbiologi. Englang : Forfattern Og Systime.

Yuharmen, Yum Eryanti, dan Nurbalatif. 2007. Uji aktivitas antimikroba minyak atsiri dan ekstrak metanol lengkuas (Alpinia galanga) Jurusan Kimia, FMIPA. Universitas Riau.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar